Remahan.com

Harmoko Istana (2)

REMAHAN.com - Mari kita perhatikan bagaimana cara komunikasi Istana dalam dua masalah ini. Sebagai perwakilan dari keseluruhan cara negara menyikapinya.

Pertama; sengketa lahan dibanyak tempat.

Kedua; kasus penyiraman air keras Novel Baswedan.

Sengketa lahan. Peristiwa yang berulang ya. Kata Wiranto. Menanggapi bentrok perebutan lahan di Mesuji yang menewaskan tiga orang itu.

Baca: Timang Risau

Terlihat enteng. Betul, ada pemulihan kondisi keamanan disana. Tapi apa ada pernyataan dari Istana tentang: penyelesaian menyuruh dari sengketa lahan ini?

Padahal, konflik perebutan lahan seperti ini hampir diseluruh daerah.

Di Mesuji: Masyarakat-Masyarakat

Di Tanjung Jabung: Masyarakat-Swasta

Baca: Cetar Syamsuar

Di Rokan Hulu: Masyarakat-Swasta

Di Tarakan: Masyarakat-TNI AL

Itu yang muncul kepermukaan dalam pekan-pekan terakhir ini. Yang merenggut nyawa atau pun tidak. Sebelumnya banyak ditempat lain. Juga kedepan menunggu, sudah berjejer tuk meledak.

Negara kehilangan kekuatannya. Diperburuk lagi kita merasa tidak mendapat keterangan menyeluruh dan kebijakan apa yang akan dilakukan pemerintah kedepan tentang konflik lahan ini. Istana serasa sunyi.

Baca: Pimpinan KPK Meracau UAS Berkilau

Jika pun ada penjelasan, itu hanya kasus per kasus. Sebab itulah keluarnya pernyataan Wiranto tadi.

Di lain sisi. Penyelesaian kasus penyiraman Novel Naswedan.

NGO tekan habis-habisan. Otoritas terlihat merespon dengan langkah kesungguhan. Meski dinilai mereka yang tidak puas hanya seperti.

Namun, setidaknya negara dan perhatian publik disedot habis dengan penyelesaian kasus Novel ini.

Baca: UAS Ditolak Kampus Radikal

Ok. kita terima argumen: perlindungan pada penegak hukum. Atau. Perlidungan pada aparatur negara. Sehingga harus mendapat perlakuan istimewa.

Lalu pertanyaannya, bagaimana reaksi pemerintah, juga NGO-NGO itu dengan terus bergugurannya TNI di Papua? Berulang. Terakhir Prada Husman di Nduga.

Apakah mereka sangat heboh? atau hanya senyap?lagi-lagi kita melihat sama dengan cara memandangnya dengan konflik lahan tadi.

Sulit memang untuk mendapat kepuasan penjelasan dari Istana. Karena otomatis saat gagapnya dalam penyelesian masalah, maka akan gagap juga tuk memberi keterangan.

Baca: Busung Dada KPK

Entah kesabaran sejenis apa yang dimiliki rakyat di Republik ini. Sudah tampak pasrah dengan kinerja rezim.

Jangan dibandingkan dengan Hongkong yang gelombang unjuk rasa rakyatnya tidak henti-henti. Hingga kemarin. Ratusan ribu hingga, jutaan massa. Hanya karena satu RUU. Yang itupun sudah diendapkan. Massa tidak puas. Pimpinan tertingginya harus lengser.

Jika disini dilakukan seperti di Hongkong, maka siap-siap saja otoritas akan memberikan stempel khusus: makar, terafiliasi dengan kelompok radikal, mendelegitimasi dan segala macamnya.

Atau diamnya disini karena teramat religiusnya? apa yang terjadi sudah dianggap seperti takdir tuhan?Lalu pasrah? (Editorial/Red)

198 0

Artikel Terkait

KPK Baligh
KPK Baligh

Editorial

KPK Baligh

Syamsuar Mendudukkan
Syamsuar Mendudukkan

Editorial

Syamsuar Mendudukkan

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus
Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Editorial

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Artikel Lainnya

Daya Tahan UAS
Daya Tahan UAS

Editorial

Daya Tahan UAS

Syamsuar Menghela Riau Jadi
Syamsuar Menghela Riau Jadi

Editorial

Syamsuar Menghela Riau Jadi

MRT dan PLN
MRT dan PLN

Editorial

MRT dan PLN

Komentar