Remahan.com

MRT dan PLN

REMAHAN.com - Ada kekuasaan yang sangat berlimpah ditangannya. Kuasa kepala pemerintahan juga kepala negara. Presiden Republik Indonesia.

Untuk menumbangkannya teramat sulit. Ada pelanggaran yang jelas dan teramat fatal baru bisa diproses.

Sebab itu, jika pun hanya satu partai politik pendukung dalam pemerintahan, dan sisanya oposisi, tidaklah menjadi halangan berarti menjalankan program dalam pemerintahannya.

Berbeda dengan fenomena hari ini: berpayah-payah menyedot semua parpol untuk masuk kedalam pemerintahannya. Entah apa yang dirisaukannya.

Perangkat negara dibawah kuasanya. Sampai kepada tingkat terbawah. Bisa dikontrol. Perwakilannya juga ada di institusi hukum

Baca: Timang Risau

Tiga cabang kekuasaan juga melekat padanya. Menjadi yudikatif dengan grasi dan turunannya. Menjadi legislatif dengan Perppu dan turunannya. Dan pastinya menjadi eksekutif mengendalikan banyak hal tadi.

Meski tidak mutlak, ada proses politik, namun semuanya terasa normatif. Kita semua tahu itu.

Namun jangan lupa, dalam kewenangan itu satu paket dengan tanggungjawab.

Jika tampak berprestasi, sila berbangga-bangga. Dan jika nyatanya gagal, maka yang pertama harusnya merasa bersalah. Lazimnya seperti itu. Dengan kuasa yang kami sebut diawal tadi.

Mari kita melasak sedikit dengan dua hal ini: Peresmian MRT dan PLN mati massal.

Baca: Cetar Syamsuar

Saat peresmian MRT beberapa waktu yang lalu, Presiden sangat berbangga di masa kepemimpinannya ini moda transportasi itu ada. Walau kita tahu ada proses panjang sebelumnya. Di masa ini hanya tahapan akhir saja.

Tapi ok, kita terima saja segala klaim. Corongnya terlalu nyaring.

Lalu saat aliran listrik PLN mati massal, bolehlah marah-marah pada jajaran direksi PLN, setidaknya mewakili rakyak yang dirugikan. Namun ia juga harusnya jadi yang terdepan mewakili pihak PLN merasa gagal dan bersalah itu. Menyampaikan itu pada rakyatnya.

Kalau dirunut, jelas PLN ini siapa atasannya. Yang bisa merombak jajaran direksi juga sampai ke menteri yang ada diatasnya itu. Tidak perlu harus berpikir keras untuk tahu siapa pemimpin tertingginya.

Cukuplah kisah Umar bin Khattab menjadi teladan. Ketika pucuk kepemimpinan ditangan. Ia merasa bertanggung jawab dengan semua hal. Sampai-sampai jika itu hanya seekor domba yang terperosok karena kondisi jalan yang rusak.

Baca: Pimpinan KPK Meracau UAS Berkilau

Saat ini. Disini. Logika massa mereka jungkir balik. Dengan corong-corongnya itu.

Yang harusnya merunduk malu, tersaji seperti pahlawan. (Editorial/Red)

242 0

Artikel Terkait

UAS Ditolak Kampus Radikal
UAS Ditolak Kampus Radikal

Editorial

UAS Ditolak Kampus Radikal

Busung Dada KPK
Busung Dada KPK

Editorial

Busung Dada KPK

KPK Baligh
KPK Baligh

Editorial

KPK Baligh

Artikel Lainnya

Syamsuar Mendudukkan
Syamsuar Mendudukkan

Editorial

Syamsuar Mendudukkan

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus
Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Editorial

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Daya Tahan UAS
Daya Tahan UAS

Editorial

Daya Tahan UAS

Komentar