Remahan.com

Syamsuar Mendudukkan

REMAHAN.com - Bentangan spanduk mahasiswa. Untuk wakil rakyat di DPRD Riau. Yang baru dilantik. Kemarin. Yang poinnya: Jangan ingkar janji. Serap aspirasi. Dan lainnya. Bolehlah.

Padahal kami berharap saat itu ada hal substansi lain yang disuarakan: "Itu Gubernur, Jangan Berhenti Tuk Mengawasinya, Pertanyakan Banyak Hal dan Pantau Segala Bentuk Kinerjanya. Kami Bersama Anda Semua". Itu bayangan kami.

Lalu mengapa dugaan kami itu tak jua terwujud? Persepsi yang berbeda. Frekuensi yang belum berjumpa. Juga hasil dari kampanye hitam pelemaham terhadap lembaga Legislatif.

Mari kita berandai-andai. Daerah tanpa ada lembaga Legislatif. Apa akan ada kendala jalannya pemerintahan? Kami pastikan tidak.

Lalu kita munculkan lembaga Legislatif ini kepermukaan mengiringi jalannya kuasa Kepala Daerah. Yang maha dahsyat itu.

Baca: Timang Risau

Maka, terlihat jelas bahwa keberadaan Legislatif lebih utama pada perpanjangan tangan rakyat mempertanyakan jalannya kuasa kepala daerah tadi: Mengapa dan seperti apanya. Itu pertanyaan terus memerus.

Namun semakin kesini, segala bentuk kekuatan masyarakat sipil seakan bukan bagian dari satu gerbong dengan Legislatif. Bahkan kekuatan masyarakat sipil sendiri menghantam lembaga negara pengawas jalannya Eksekutif.

Dan terkadang kekuatan masyarakat sipil ini teramat mesra dengan Eksekutif. Sering malah. Bingung kita dibuatnya.

Ini kita kesampingkan dulu.

Kita menerawang sejenak, tentang: politik Gubernur Syamsuar dengan komposisi Anggota DPRD saat ini.

Baca: Cetar Syamsuar

Yang partai pengusungnya: PAN, PKS, Nasdem. Perolehan kursinya di DPRD Riau tak sampai seperempat dari total kursi.

Dan itu oleh sebagian orang dirisaukan akan jadi penghalang maunya Syamsuar-Edy dalam program-programnya. Tersendat di DPRD.

Juga itu yang membuat Syamsuar jauh-jauh hari tampak mesra dengan pimpinan partai politik di daerah yang saat Pilkada lalu bukan pengusungnya.

Saat yang sama, Syamsuar pun terbaca seakan mengulur waktu. Atau bisa jadi mencari cara agar kursi Ketua DPW dari partai Matahari Putih itu untuk orang lain. Sah-sah saja.

Di sisi lain. Tiga partai pengusung Syamsuar-Edy jelas tak mau melepas. Di Pilkada sudah berpeluh darah.

Baca: Pimpinan KPK Meracau UAS Berkilau

Inilah yang dimainkan Syamsuar saat ini: Ia sadar akan posisi kuasa ditangannya. Semua akan mendekat padanya. Sebab itu, diantara partai politik itu, posisikan saja diri ditengah. Biar aman.

Padahal kami melihat dimanapun Syamsuar mengambil posisi, tidak ada pengaruhnya juga. Tersebab lembaga Legislatif saat ini sudah terdefenisikan sendiri. Oleh Anggota Dewan itu sendiri juga masyarakat umum. Di alam yang sulit dimengerti. Jauh dari filosofi dilahirkannya.

Maka kami melihat tidak jauh beda dengan apa yang akan terjadi antara: Wali kota Pemko Pekanbaru-DPRD dan Gubernur Riau-DPRD. Yang kami muat kemarin.

Koalisi masyarakat sipil?

Ya, mungkin dengan sekali bentang spanduk di hadapan Anggota DPRD dikantornya. Tiga kali bentang spanduk dihadapan kepala daerah. Tapi baiknya jangan dilakukan saat diundang makan malam. Kurang elok.

Baca: UAS Ditolak Kampus Radikal

Masih ada harapan. Setidaknya. (Editorial/Red)

406 0

Artikel Terkait

Busung Dada KPK
Busung Dada KPK

Editorial

Busung Dada KPK

KPK Baligh
KPK Baligh

Editorial

KPK Baligh

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus
Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Editorial

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Artikel Lainnya

Daya Tahan UAS
Daya Tahan UAS

Editorial

Daya Tahan UAS

Syamsuar Menghela Riau Jadi
Syamsuar Menghela Riau Jadi

Editorial

Syamsuar Menghela Riau Jadi

MRT dan PLN
MRT dan PLN

Editorial

MRT dan PLN

Komentar