Remahan.com

Timang Risau

REMAHAN.com - Belarusia tidak mengidap sakit jiwa. Seperti pengetatan yang dilakukan negara-negara Eropa Barat pada warganya. Itu kata Alexander Lukashenko. Presiden Belarusia itu.

Anjuran WHO untuk pencegahan penyebaran virus korona juga dianggap tidak masuk akal. Bahkan dinilai ide gila.

Virus corona disebut hanyalah masalah psikosis lain. Yang bermanfaat bagi beberapa orang. Dan membahayakan orang lain.

Dunia yang beradab dia nilai sudah menjadi gila. Benar-benar bodoh untuk menutup perbatasan negara. Kepanikan itu katanya bisa melukai kita lebih dari virus itu sendiri.

Baca: Cetar Syamsuar

Liga sepakbola di negara itu juga tetap berjalan. Dengan penonton tentunya. Ribuan orang.

Semua buka seperti biasa: Sekolah. Perkantoran. Pelayanan publik. Bahkan perayaan Hari Kemerdekaan bulan Mei mendatang dengan acara karnaval untuk veteran.

Tapi bukan berarti juga tanpa usaha pencegahan.

Pemain di liga kompetisi sepakbola tadi dibekali masker dan sarung tangan. Suhu tubuh pemain dan penonton di cek sebelum masuk stadion.

Baca: Pimpinan KPK Meracau UAS Berkilau

Dan juga bukan berarti negara ini tak ada warganya yang tertular. Ada. Puluhan. Hari ini mungkin sudah di atas seratus.

Tak hanya Lukashenko. Bolsonaro, Presiden Brazil itu juga lebih kurang sama menyikapi virus ini. Bedanya, ia berlawanan dengan pemerintah di negara-negara bagian. Juga dengan menteri Kesehatannya. Ia anggap hanya sebagai flu biasa. Namun warga berusia di atas 65 tahun diharap tetap tinggal di rumah.

Tidak sama, tapi serupa. Naguib Onsi Sawiris. Bukan Presiden, tapi pandangannya serupa dengan dua pemimpin negara tadi. Ia miliuner. Orang terkaya kedua di tanah Mesir.

"Kita membutuhkan keputusan yang revolusioner, apa pun konsekuensinya, kalau orang-orang nanti sakit, mereka akan sembuh. Saya telah mengambil keputusan, saya tidak ingin mendengar atau berbicara lagi soal virus corona. Benar-benar sulit dipercaya, apakah kita ingin berhenti hidup karena kita takut dengan sebuah virus?" kata Naguib.

Baca: UAS Ditolak Kampus Radikal

Di sini. Sangat mungkin, jika bupati termuda di Riau itu terurai dari segala keterikatan, ia akan bersikap sama dengan dua pemimpin negara tadi.

Saat seluruh daerah ambil kebijakan liburkan sekolah, di kabupaten satu ini waktu itu masih berjalan proses belajar mengajar di kelas. Hampir berjarak satu pekan. Disindir. Bahkan ada yang sampai menyebut bingal. Tega nian.

Sengaja kami dedah pikiran dari mereka yang menyalah dari apa yang berkelindan di kebanyakan makhluk bumi beberapa bulan terakhir ini.

Bukan untuk mengadu dengan: pernyataan Presiden Ghana itu. Atau Bill Gates yang tak henti dengan seruannya itu. Sebab ujungnya bersua juga pada kata kepedulian itu.

Baca: Busung Dada KPK

Namun berbeda jalan tentang cara menyikapi. Kepanikan. Kewajaran.

Sebab itu tak salah jua jika virus korona ini kita sandingkan dengan TBC. Tentang: cara penularannya atau juga korban jiwa.

Dan tentang WHO. Dosen Hubungan Internasional, seorang doktor, yang kami jumpai belum lama ini, mengaku mengikuti betul jejak lembaga kesehatan dunia itu. Ada yang ganjil usai mereka datangi Afrika, Pulau Samosir juga tanah Papua.

Tapi sayang, video wawancara kami itu pun entah terpapar virus jenis apa. Tak nak tayang di Youtube. Lain waktu diulangi. (Editorial/Red)

115 0

Artikel Terkait

KPK Baligh
KPK Baligh

Editorial

KPK Baligh

Syamsuar Mendudukkan
Syamsuar Mendudukkan

Editorial

Syamsuar Mendudukkan

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus
Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Editorial

Pekanbaru: Firdaus vs Firdaus

Artikel Lainnya

Daya Tahan UAS
Daya Tahan UAS

Editorial

Daya Tahan UAS

Syamsuar Menghela Riau Jadi
Syamsuar Menghela Riau Jadi

Editorial

Syamsuar Menghela Riau Jadi

MRT dan PLN
MRT dan PLN

Editorial

MRT dan PLN

Komentar